Melawan Trump Di Saat Pesta Bagian 3

Moore berpendapat, Trump sama sekali tak pantas menjadi Presiden Amerika. Salah satu argumennya, yang berkaitan dengan kompetensi, adalah ketidaksediaan Trump menghadiri setiap briefng keamanan nasional sejak dia memenangi pemilu. Menurut Moore, dalam tugas memastikan keselamatan rakyat, sebagai presiden, Trump semestinya menghadiri pertemuan itu untuk mempelajari potensi ancaman apa saja yang ada. Ketidakacuhan yang keterlaluan terhadap tugas itu, kata pria 62 tahun ini, ”bakal membuat banyak orang tak bersalah terbunuh”.

Dia memberi contoh bagaimana abainya George W. Bush terhadap materi briefng keamanan nasional telah menjadikan Amerika tak bisa mengelakkan serangan teror pada 11 September 2001. Dia bercerita, pada pagi 6 Agustus 2001, saat Bush sedang berlibur panjang di rancanya di Texas, staf Gedung Putih urusan hukum menyerahkan bahan briefng tersebut. Bush hanya melihat sekejap, menyisihkannya, lalu pergi memancing. Briefng itu berjudul ”Bin Ladin Bertekad Menyerang Amerika dari Dalam”. Di halaman paling muka disebutkan bagaimana serangan itu akan dilakukan: dengan pesawat terbang.

Moore mengingatkan bahwa Bush adalah presiden seperti Trump: dia juga kalah dari jumlah total perolehan suara rakyat— bahwa mayoritas rakyat tak menginginkannya. Tapi putusan Mahkamah Agung, yang mengadili perselisihan hasil penghitungan suara pemilu pada 2000 di Negara Bagian Florida, memenangkannya dan menjadikannya presiden. Perihal aksi protesnya, Moore menyatakan melalui e-mail yang dikirimkannya ke sejumlah media, jika Trump memang datang untuk menjalani pengambilan sumpah, ”saya akan ada di sana membantu memimpin protes nasional”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *