Melawan Trump Di Saat Pesta Bagian 2

Jumlah electoral college berbeda-beda di tiap negara bagian, ”harga”-nya tergantung besaran populasinya. Menurut Moore, dengan mendengar suara mayoritas rakyat, para elector sesungguhnya ”hanya mengikuti kehendak rakyat” dan hal itu ”tak pernah menjadi kejahatan dalam demokrasi”. Pernyataan bahwa mengikuti suara rakyat bukanlah kejahatan tampaknya sengaja dikemukakan di situ. Dan bukan tak ada alasannya.

Di sejumlah negara bagian, pilihan seperti yang disarankan Moore dianggap sebagai pelanggaran hukum dan diancam denda, sampai US$ 1.000 (sekitar Rp 13,3 juta). Moore berkeyakinan membayarkan denda itu merupakan ”hak hukum yang bisa saya lakukan”. Menetapkan kandidat yang kalah dalam perebutan jumlah electoral college terbanyak sebagai presiden pun sebetulnya merupakan hak elector. Dalam kolomnya di The Washington Post pada 24 November lalu, Lawrence Lessig menegaskan konstitusi tak menyatakan apa pun yang bertujuan membatasi kebebasan elector, apakah akan menyetujui pilihan rakyat atau sebaliknya.

Politikus yang ikut berebut tiket calon presiden dari Partai Demokrat ini menulis: ”Mereka adalah pengadil bagi warga negara, bukan gerigi yang memutar roda.” Menyeru para pengadil Republiken sebetulnya merupakan bagian dari perlawanan Moore terhadap Trump. Pendukung Bernie Sanders di masa pemilihan pendahuluan Partai Demokrat yang sejak dini meramalkan kemenangan Trump ini sedang berupaya menggalang gerakan. Yang hendak dia lakukan adalah sekurang-kurangnya merintangi acara dan pesta pelantikan pada 20 Januari nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *