GERILYA MENCARI PENANTANG AHOK

PETA politik Jakarta menjelang pemilihan gubernur 2017 berubah dua pekan terakhir. Terutama setelah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri memanggil Basuki Tjahaja Purnama ke rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, pada 28 Mei lalu. Partai Gerindra, yang tengah menggalang koalisi besar untuk menghadang Basuki dengan menjajaki koalisi dengan PDI Perjuangan, ancang-ancang balik kanan. ”Kami akan mundur jika PDIP jadi mengusung Ahok,” kata Ketua Gerindra Jakarta Mohamad Taufik, pekan lalu. Di Jakarta, Gerindra menjadi partai dengan suara terbanyak kedua, setelah PDIP.

Dengan 15 kursi di parlemen, Gerindra hanya membutuhkan 6 kursi lagi untuk bisa mengusung calon gubernur sendiri. Partai itu sudah mendapat sokongan dari Partai Keadilan Sejahtera, yang punya 11 kursi dan sejak awal tak ingin mengusung Ahok. Dua pekan lalu, tokoh-tokoh Gerindra Jakarta dan PDI Perjuangan serta elite partai kecil bertemu untuk membahas kemungkinan koalisi. Ketua PDIP Jakarta Bambang D.H. mengatakan, meski partainya bisa mengusung calon sendiri, koalisi mutlak diperlukan. ”Kalau tak koalisi malah bisa kalah,” ujarnya. Ketika itu, Bambang D.H. memastikan tak akan mendukung calon independen, seperti niat Basuki bersama Heru Budi Hartono yang disokong satu juta kartu tanda penduduk oleh Teman Ahok. Ketua Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Wasono menegaskan, partainya tak akan mendukung Ahok karena dia tak ikut mendaftar dalam seleksi calon gubernur partainya. Dengan pelbagai gerilya politik itu, Gerindra optimistis bisa mengalahkan Basuki, Gubernur Jakarta yang diusung partai ini pada pemilihan 2012. ”Di tingkat lokal, koalisi sudah beres,” kata Syarief, Ketua Pemenangan Pemilu Gerindra.

Website : kota-bunga.net

Keberesan itu buyar setelah Basuki bertemu dengan Megawati dan PDIP pusat akan mengusungnya bersama Djarot Saiful Hidayat, Wakil Gubernur Jakarta sekarang. Meski kemungkinan koalisi dengan PDIP batal, Gerindra tetap mengusung tiga nama yang dianggap bisa mengalahkan Basuki: pengusaha Sandiaga Uno, mantan Ketua Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra, dan bekas Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo sempat dijajaki, tapi belakangan pembicaraan tak berlanjut. Menurut Taufik, tiga nama itu telah diserahkan kepada Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk dipilih. Sebetulnya, secara elektabilitas, mereka jauh di bawah Basuki, yang masih bertengger di angka 40 persen. Partai harus memutuskan nama pada September 2016 untuk bertarung dalam pemilihan pada Februari 2017. ”Masih ada waktu untuk sosialisasi,” ujar Taufik.

Menurut dia, diam-diam Sjafrie sudah bergerilya ke banyak kelompok masyarakat sebagai penjajakan. Kelompok-kelompok umat Islam, kata Taufik, antre meminta jadwal bertemu dengan Sjafrie. Sjafrie, menurut Taufik, cocok melawan Ahok. Ia tentara, pernah menjadi idola ibu-ibu ketika menjabat Panglima Komando Daerah Militer Jakarta sewaktu huru-hara Mei 1998. Laki-laki 63 tahun ini juga kalem saat berbicara—memenuhi semua syarat calon gubernur Gerindra, yang mencari sosok antitesis Ahok. ”Dalam diskusi sebulan lalu di rumah Pak Sjafrie, beliau ingin membangun Jakarta tanpa gaduh,” kata Syarief.

Partai Demokrat menyambut calon Gerindra. ”Secara ideologis, kami sejalan dengan Gerindra,” ujar Vike Verry Ponto, Wakil Sekretaris Gerindra Jakarta. PKS masih kurang percaya diri jika koalisinya hanya tiga partai. Menurut Selamat Nurdin, anggota Fraksi PKS, koalisi gemuk mutlak diperlukan untuk mengalahkan Basuki. ”Kuncinya koalisi dengan PDIP,” katanya. Agaknya, harapan itu sulit terwujud. Partai Amanat Nasional akan manut kepada PDIP meski calon yang diusung adalah Ahok. Ketua Umum Golkar Setya Novanto juga mendukung Ahok dan ingin Jakarta dipimpin lagi oleh orang Belitung Timur itu. Sejauh ini, Hanura dan NasDem sudah pasti mendukung Ahok, maju lewat partai atau nonpartai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *