Kok Bisa Infeksi Rahim

Jika merasakan suhu tubuh meningkat tinggi dan tidak ditemukan penyebab lainnya, semisal flu, segera konsultasikan ke dokter ya, Ma. Takutnya, telah terjadi infeksi rahim atau di sekitar rahim. Usai bersalin sekitar 6-8 minggu, tubuh Mama akan berusaha kembali ke kondisi sebelum hamil. Pada situasi ini, tubuh akan mengalami penurunan denyut nadi, suhu tubuh meningkat, keluar darah dari vagina selama 3-4 hari, dan sebagainya. Sementara rahim terus berkontraksi dan mengecil yang membuat Mama kerap mengalami nyeri sekitar 5-7 hari.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Namun, jika suhu tubuh meningkat hingga 38C dan tidak ditemukan penyebab lainnya, semisal flu kemungkinan sudah terjadi infeksi pascamelahirkan, yaitu infeksi rahim atau infeksi sekitar rahim. Infeksi ini berawal dari infeksi cairan ketuban dimana bakterinya bisa menginfeksi endometriosis (infeksi lapisan rahim), miometritis (infeksi otot rahim), atau parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim). Bisa juga bakteri berasal dari vagina yang karena terlalu banyak, bisa menyebar ke daerah rahim.

GEJALA & KOMPLIKASI

Selain demam tinggi, gejala yang muncul bisa berupa denyut jantung lebih cepat, sakit kepala, nyeri di daerah rahim, menggigil, badan terasa tidak enak, wajah pucat, dan keluar cairan di vagina yang berbau tidak enak. Jika dilakukan pemeriksaan darah, jumlah sel darah putih meningkat dan bila Mama menekan daerah di dekat tempat rahim berada akan terasa nyeri.

Segera periksakan ke dokter, ya, begitu merasakan gejala-gejala tersebut. Untuk menegakkan diagnosis, Mama akan menjalani serangkaian pemeriksaan. Salah satunya, pemeriksaan biakan pada air kemih dan cairan dari rahim. Jika positif terjadi infeksi pada rahim, biasanya akan diatasi dengan pemberian antibiotik . Jika harus dirawat di rumah sakit atau klinik, Mama akan diberi antibiotik lewat infus sekitar 48 jam sampai infeksi teratasi.

Nah, kalau suhu tubuh Mama sudah kembali normal, itu pertanda infeksi sudah teratasi. Gejala-gejala infeksi pascamelahirkan jangan pernah diabaikan ya Ma! Kalau dibiarkan, takutnya kondisi infeksi jadi semakin parah sehingga timbullah komplikasi. Apa saja komplikasinya? Peradangan selaput rongga perut; bekuan darah di dalam vena panggul dengan rIsiko terjadinya emboli pulmoner; syok toksik karena tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah dan bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat, bahkan kematian.

Oh ya, infeksi rahim akan semakin rentan pada mama yang mengalami kondisi-kondisi ini: anemia, preeklamsia, persalinan lama, operasi sesar, pemeriksaan vagina berulang kali, tertinggalnya bagian plasenta di dalam rahim, perdarahan hebat, atau persalinan yang ditunda lebih dari 6 jam padahal ketuban sudah pecah. Jika salah satu atau beberapa kondisi ini dialami, Mama perlu lebih waspada terhadap infeksi.

Cukup Cairan Produksi Asi Pun Maksimal

Apakah Mama cenderung merasa cepat haus di masa menyusui? Wajar kok, Ma. Yang penting, jangan sampai kekurangan cairan ya, Ma, demi lancarnya produksi ASI. Tahukah Mama, sebagian air yang Mama minum digunakan oleh tubuh untuk memproduksi ASI (87% kandungan ASI adalah air)? Itulah mengapa, bila Mama sampai kekurangan cairan, dapat dipastikan metabolisme di tubuh akan mengalami gangguan.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Otomatis, kondisi ini akan memengaruhi, baik kuantitas maupun kualitas ASI. Nah, karena di masa menyu sui, Mama harus memenuhi kebutuhan cairan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga sang bayi, tak heran bila kebutuhan tubuh akan cairan menjadi lebih banyak dari biasanya. Berapa jumlahnya? The Institute of Medicine, AS menganjurkan mama menyusui agar minum sebanyak 3,1 liter setiap hari atau setara dengan 13 gelas air. Wow, banyak banget ya, Ma!

Tak Selalu Harus Air Putih

Jangan khawatir, kita bisa kok memenuhi target itu. Soalnya, cairan yang masuk ke dalam tubuh tidak selalu harus dihitung dari minum air putih saja. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari sedikitnya me ngandung 20% dari ke seluruhan asupan air tubuh, sedang kan sisanya dapat dipenuhi dari asupan air langsung.

Jadi, kebutuhan akan cair an bagi mama menyusui bisa dipenuhi dengan minum air putih biasa ataupun air dari sumber makanan atau minum an lain. Namun, akan lebih bermanfaat lagi bila kita minum cairan “bergizi” seperti: susu, air kacang-kacangan, sari buah-buahan, air sayuran daun hijau, dan sebagainya. Kita bukan hanya dapat mencukupi kebutuhan cairan bagi tubuh, juga akan memperbaiki produksi ASI, yakni terpenuhi secara kuantitas dan kualitas.

Bagaimana Dengan Susu?

Mama menyusui dianjurkan minum susu agar kesehatannya terjaga, salah satunya agar kebutuhan kalsium dapat tercukupi. Selain susu, ada alternatif makanan sumber kalsium lainnya. Di antaranya: sayuran berdaun hijau, biji kacang-kacangan, buah yang telah dikeringkan, padi-padian yang masih utuh, ikan tulang lunak dalam kaleng, ikan teri, bandeng presto, dan lainnya.

Kendati demikian, susu tetap direkomendasikan untuk dikonsumsi karena mampu menyuplai kebutuhan akan zat gizi, seperti: protein, fosfor, kalium, niasin, asam amino, vitamin A dan B2, serta senyawa bermanfaat lainnya. Terlebih lagi, saat menyusui, tubuh Mama membutuhkan kalsium sebagai salah satu unsur yang terkandung dalam ASI. Penyerapan kalsium dalam tubuh akan maksimal bila dibarengi dengan protein. Itu sebabnya, susu bisa menjadi sumber kalsium terbaik bagi Mama.

Sumber : pascal-edu.com

Tanda-Tanda Bayi Sembelit

sat-jakarta.com – Ketika bayi terlihat kesakitan saat ingin pup dan fesesnya cenderung keras, ini pertanda dia mengalami sembelit. Begitu juga ketika bayi Mama melengkungkan punggung, mengencangkan bokong, atau menangis saat ingin pup. Menurut Dr. Jay Hoecker, pakar kesehatan anak dari Mayo Clinic, bayi mulai mengalami sembelit begitu mulai mengonsumsi makanan padat. Saran Hoecker, sering-seringlah memberikan air atau jus buah tambahan disamping yang biasa ia konsumsi. Selain itu, pilih jenis makanan yang bisa bersahabat bagi pencernaan, seperti bubur buah.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di Jakarta

Bayi Di Bawah 6 Bulan Tak Perlu Air Putih

Bayi memerlukan nutrisi lengkap (karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin) dan juga cairan dalam volume yang tidak terlalu banyak (mengingat kapasitas perutnya tidak besar), namun kaya kandungannya. Nah, ASI dapat memenuhi segala kebutuhannya itu. Air putih terlalu banyak, menurut dr. Martinus M. Leman, DTMH, SpA, justru membuat bayi tidak mampu lagi menerima ASI dengan baik, karena sudah “kembung”. Padahal, dalam air putih tidak terkandung nutrisi yang diperlukan bayi alias hanya komponen cairan tanpa adanya protein, karbohidrat, lemak, dan lain-lain yang sangat diperlukan bayi. “Dampak pemberian air putih terlalu banyak adalah bayi tak mampu menerima ASI dengan maksimal, akhirnya dapat mengalami kekurangan gizi dan tentunya berdampak tak baik bagi tumbuh kembangnya,” terang dokter spesialis anak dari Siloam Hospital TB Simatupang Jakarta ini.

Rahasia Lebih Pintar Bicara

Kata-kata si kecil masih sulit dipahami karena pengucapannya kurang jelas? Ini tergolong normal, karena pada masa ini, ia masih be lajar melatih artikulasinya. Supaya lebih mendorongnya berani berbicara, hindari berkata, “Mama enggak ngerti kamu bilang apa!” Sebab, ini akan membuatnya justru jadi frustrasi. Akan lebih baik bila Mama mencoba menebak kata-katanya. Misalnya berkata, “Oh, kamu mau boneka?” Atau, mintalah dia menunjuk apa yang dimaksud. Lalu, sebutkan nama benda yang dimaksud dan ajak ia mengulanginya. Namun, bila masih belum bisa bicara dengan jelas hingga lewat usia 3 tahun, ada kemungkinan anak Mama butuh terapi bicara atau mengalami masalah pendengaran. Segera konsultasikan dengan dokter.